Loading...

Jumat, 08 Juli 2011

Ketulusan

Terkadang kita selalu tertawa saat mendapat kabar bahagia, senang, saat mendengar teman membuat lelucon, atau ada hal-hal yang lucu yang membuat kita tertawa, dan kita selalu bersedih ketika kita mendapat berita buruk, sesuatu yang amat sangat tidak menyenangkan, membuat kecewa, marah dan sebagainya. Tapi sebenarnya tawa tidak selalu kebahagiaan, tangisan tidak selalu kesedihan, tapi ketulusan selalu menyenangkan walaupun selalu ga dianggap. Yah benar terkadang kita harus tertawa saat kita mengalami kesedihan itu untuk menutupi kesedihan kita dan menjawab pertanyaan teman-teman kita tentang masalah yang dihadapi, kita terkadang harus bersedih tatkala sedang mendapat kabar gembira atau saat kita sedang bersenang-senang bersama teman-teman karena bisa jadi itu ga bisa kita rasakan lagi di suatu hari nanti dan itu hanya akan menjadi memori yang indah.

Ketulusan, sebenarnya apa ketulusan itu? dalam kamus bahasa indonesia ketulusan itu berarti murni, ada juga yang mengatakan bahwa ketulusan itu merupakan sesuatu yang keluar dari dalam, yang memberikan pengertian tanpa mengharapkan timbal balik, yah kurang lebih sama dengan ikhlas. Ketulusan merupakan sesuatu yang sangat sulit dilakukan karena memang itu berada dalam tingkatan paling tinggi, ketulusan tidak dapat dinilai oleh manusia karena yang dapat menilai ketulusan hanyalah Tuhan. Saat kita memiliki hati yang tulus maka kita selalu bisa menilai segala sesuatu dengan positif. Ketulusan adalah hati yang mau memberi tanpa ingin memiliki untuk kepentingan pribadi. Ketulusan seharusnya menyenangkan tapi terkadang selalu dibarengi dengan kesedihan, untuk itu anggap kesedihan itu sebagai kebahagiaan, cara untuk menjadi bahagia adalah menolak untuk menjadi sedih. Memang sepertinya sulit untuk bisa seperti itu tapi kita tidak akan tau jika tidak mencobanya, ini tidak akan cukup jika hanya dibayangkan tapi harus dilakukan.

Ketulusan tidak hanya dalam urusan cinta saja tapi dalam banyak hal, selalu ada dalam kehidupan sehari-hari. Ketulusan juga merupakan sebuah anugrah yang harus dijaga dan dipelihara, dan itu membutuhkan kekuatan, karena banyak sekali godaannya untuk bisa menjadi orang yang benar-benar tulus. Berbicara tentang hal ini jadi teringat karakter kim Tae Poong yang diperankan oleh Lee Ji Hon dan Jang Sae Byuk yang diperankan oleh Yoona dalam film drama korea You Are My Destiny.


"Ketulusan itu menyenangkan walaupun selalu ga dianggap dan dibarengi dengan kesedihan, maka dari itu aggaplah kesedihan itu sebagai kebahagiaan. cara untuk menjadi bahagia adalah menolak untuk menjadi sedih - rere_retha".

Etika

Jaman sekarang memang lebih maju daripada jaman nenek moyang kita dahulu, teknologi, ilmu pengetahuan berkembang begitu pesat. Sesuatu yang dianggap mustahil pun bisa terjadi di jaman sekarang dengan banyaknya ilmuwan dan orang-orang pintar lainnya (bukan dukun). Tapi ada satu hal yang pada jaman dulu dijunjung tinggi oleh para orang-orang sebelum kita yang kini mulai hilang seiring dengan berkembangnya jaman itu adalah etika.

Anak muda jaman sekarang bahkan sudah jarang yang mempunyai etika yang baik, mereka lebih bangga akan dirinya sendiri, kepintarannya, kesombongan akan hartanya, dan lain-lain. Sejak kecil anak jaman sekarang sudah mengenal internet, jarang sekali ada anak kecil yang bermain petak umpet, boy-boyan, bancakan, bahkan sudah ga ada, di desa sekalipun itu sangat jarang ditemukan apalagi di kota sebesar ini? teknologi yang seharusnya bisa membawa dampak positif bagi anak-anak kini berjalan kurang efektif, bahkan lebih banyak membawa dampak negatif bagi perkembangan anak.
 
Balik lagi ke soal etika,  beberapa hari lalu saat aku sedang diwarnet temen, temen aku bercerita katanya dia tadi liat anak SMA yg lagi bonceng pacarnya nendang motor vespa bapa-bapa yang udah tua yg lagi mogok sampe mau jatuh bapa-bapanya itu. Sangat miris denger cerita temen aku itu, kalo aku yg ada disana mungkin sudah aku kejar anak itu, ga bisa menghargai orang yang lebih tua. Beberapa waktu yang lalu adalah pembukaan penerimaan SMA negeri, lagi-lagi banyak anak anak yang sombong mereka mendapat nilai yang menurutku itu tinggi dan sudah seharusnya disyukuri, tapi mereka malah mengeluh karena ga bisa masuk SMA yang diinginkan padahal mereka masih bisa masuk ke SMA yang boleh dikatakan dalam kategori favorit dan ga bersyukur atas apa yang dikasih Tuhan untuknya. Belum lagi tadi ada anak yang menilai dirinya itu lebih baik segalanya daripada orang lain dan dengan seenaknya menilai orang lain itu kampungan, sungguh miris sekali melihat kelakuan anak muda jaman sekarang yang seperti itu.
 
Sebenarnya apa dan siapa yang salah sehingga mereka bisa berbuat seperti itu? apa memang etika sudah tidak diperlukan lagi? dan apa hanya kepintaran, harta, kekuasaan saja yang dipandang saat ini? mungkin sekarang banyak orang yang menilai orang lain dari segi seperti itu, tapi buat aku semua itu ga berlaku tanpa disertai dengan etika yang baik, aku lebih menghargai orang yang biasa-biasa tapi mempunyai etika yang baik, sopan santun dan menghargai orang yang lebih tua dan yang paling penting menghargai dan mensyukuri apa yang Tuhan berikan. karena semua yang diberikan Tuhan itu adalah titipan, kepintaran, kekayaan, kekuasaan semua itu cobaan dan titipan. 

Maka dari itu didiklah semua anak-anak, adik-adik kita dengan sebaik mungkin, bekali lah mereka semua dengan etika yang baik, dengan ilmu agama, ilmu pengetahuan agar suatu saat mereka bisa menjadi orang yang berguna. Kesuksesan bukan dilihat dari kepintaran, kekuasaan, dan harta saja tapi kesukesan bisa ditentukan oleh etika yang baik dan kerja keras. Jangan jadikan kemajuan jaman ini menjadi kemunduran bagi sumber daya manusianya karena perilaku manusianya yang tidak mencerminkan perilaku seorang manusia. 

Garis antara kepercayaan diri dan keombongan itu sangat tipis, dan antara garis kesombongan serta kebodohan bahkan lebih tipis lagi - nicholas flamel

Jumat, 01 Juli 2011

Cahaya Lilin Ditengah Terangnya Cahaya Bintang

Bintang adalah salah satu benda langit yang mempunyai cahaya sendiri, selalu meyinari dunia disaat malam tiba hingga langit menjadi lebih indah. Sementara lilin hanya bisa menerangi suatu bagian/ruang sementara dirinya hancur. Lalu apa jadinya jika cahaya lilin berada ditengah terangnya cahaya bintang? sebenarnya cahaya lilinlah yang lebih berguna. Bintang menyinari dunia yang luas ini tapi tidak bisa menyinari satu bagian dimana orang-orang itu tinggal dan memerlukan cahaya untuk menghindari dirinya dari kegelapan, sementara lilin bisa menyinari satu bagian ruang yang ditempati oleh banyak orang didunia meskipun dirinya sendiri harus hancur. Bintang memang mempunyai cahaya sendiri tapi bintang tidak mempunyai ketulusan seperti sebuah lilin.

Dikala sang bintang tengah bersinar terang dengan penuh kebahagiaan dan penuh semangat, sang lilin hanya bisa berdiri tegak sambil melihat dan merasakan semua kebahagiaan sang bintang, meskipun dia tahu bahwa dirinya akan hancur. Sang lilin hanya bisa tersenyum dan berharap agar cahaya bintang itu terus terpancar terang, agar tidak ada kegelapan yang bisa membuat orang-orang disekitarnya merasa ketakutan. Sang lilin hanya bisa menyinari ruangan yang kosong yang ada dalam dirinya sendiri selama dia masih bisa berdiri tegak, meskipun terkadang cahaya tersebut menyinari sang bintang dikala cahaya sang bintang meredup tertutup awan hitam, dia tidak pernah mengeluh meskipun dia tahu semua yang dilakukannya tidak akan pernah bisa membuat cahaya sang bintang itu mengisi ruang kosong yang ada dalam dirinya, tapi dia tidak peduli dia terus dan terus mencoba agar sang bintang tersebut tetap bersinar terang.

Dalam hatinya mungkin pernah tersirat suatu keinginan agar suatu saat nanti bisa mendapatkan cahaya sang bintang untuk mengisi kekosongan yang ada pada dirinya. Setiap hari lilin itu hanya bisa memandangi bintang melalui gambarannya yang indah, cahayanya yang terang, senyumannya yang membuat dia tetap kuat meskipun sedikit demi sedikit bagian dari dirinya hancur. Dia juga sadar kalau dirinya suatu saat nanti akan hancur lagipula bintang itu sudah menemukan kebahagiaannya yang dia harap bisa membuatnya tetap terang pada saat dia sudah tiada. Apa yang dia berikan itu suatu ketulusan bukan suatu keinginan, sekalipun suatu saat apa yang pernah dipikirkan olehnya terjadi dia menganggap itu merupakan hadiah dan bonus dari Tuhan.


"Hiduplah seperti lilin bukan untuk membiarkan dirinya hancur tapi hidup dengan penuh ketulusan tanpa pamrih dan pengorbanan untuk mencapai puncak kebahagiaan yang dicita-citakan oleh semua manusia"